Elang Gumilang Pengusahha Muda Indonesia
Elang Gumilang adalah seorang wirausahawan muda asal indonesia yang bergerak dibidang properti,
anak pertama dari tiga bersaudara yang terlahir
dari pasangan H. Enceh Misbach dan Hj. Suanah Priyanti lahir pada 6 April 1985 ini melakukan perjuangannya dari 0 hingga sampai usaha yang dijalankannya sekarang berkembang pesat.
Dalam hati, Elang bertekad
setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa
menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia pun mempunyai target
setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta untuk modal kuliahnya
kelak. Berjualan
Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai berbisnis kecil-kecilan
dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia mengambil 10 boks donat
masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk kemudian dijajakan ke
Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari hasil jualannya ini,
setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu. Setelah berjalan
beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyinya ini tercium juga oleh orang
tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir Nasional), orang tua
menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan
saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria pemenang lomba bahasa
sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini. Dilarang berjualan donat, Elang justru
tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa, Elang mengikutinya dan
berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang juga berhasil menjadi
juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.
Setelah lulus
SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB (Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa musibah yang dialaminya tersebut.
Setelah
tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis apalagi. Pada awalnya,
dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia akan gunakan untuk
bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis ayam potong, Elang
justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di kampusnya.
Begitupula
Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan lampu Philips pusat
untuk menyetok lampu di kampusnya. Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan
perputaran uangnya lambat, Elang mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga Bahasa Inggris.
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga Bahasa Inggris.
Adapun modalnya, ia patungan bersama
kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tapi karena
pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak
teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara profesional dengan
tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan
lembaganya itu menjadi minta dalam bekerja. Pengalaman
bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan properti
Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai tender. Tender pertama
yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih.
besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun. Selama ini bisnis
properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya atau berduit saja.
Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang
miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal di Indonesia ada 70
juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi rumah juga merupakan
kebutuhan yang sangat primer.
Dalam hidupnya,
Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang, kalau mau kenal orang
maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga kenal 10 orang
termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.
Sisihkan 10 Persen.
Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak lupa diri dengan hidup
bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam setiap proyeknya, ia
selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. Bagi Elang, sedekah itu tidak
perlu banyak tapi yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin. Elang sendiri terbilang
sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana.
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana.
Penghargaan yang
didapatkan oleh Elang Gumilang :
1. Pemenang
I Wirausaha Muda Mandiri (2007)
2. Top
Youth Entrepreneur versi Warta Ekonomi ( 2008)
3. Man
of the Year 2008 versi Group Jawa Pos
4. Pemuda
Pilihan 2008 Versi TV One
5. Juara
Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel
6. Tokoh
Pilihan Majalah Tempo (2009)
7. Penghargaan
Ernst & Young Indonesian Entrepreneur Of The Year 2010
8. Pemuda
Andalan Nusantara (2010)


Komentar
Posting Komentar